This is the story of the period between two world wars. An interim during which insanity cut loose,
liberty took a nose dive, and humanity was kicked around somewhat.
Begitulah opening yang singkat namun cukup ‘tajam’ menggambarkan seperti apa film hebat yang satu ini, The Great Dictator.
Film yang rilis pada 15 Oktober 1940 ini ditulis, diproduseri dan
disutradarai oleh Charles Chaplin, yang sekaligus juga menjadi aktor
utamanya. Sebagai satu-satunya film-maker Hollywood yang sukses membuat film bisu bahkan hingga di era film ‘bicara’The Great Dictator merupakan film ‘bicara’ pertama Charles Chaplin,
yang sekaligus merupakan filmnya yang paling sukses secara komersil,
walaupun secara kritis, film ini tak kalah suksesnya dengan menuai
banyak pujian dan penghargaan, termasuk 5 nominasi Oscar.
Meskipun
berlabel film komedi, film ini tak begitu saja hanya menyajikan
kelucuan sang maestro, Charles Chaplin, namun juga bagaimana dengan
hebatnya memuat satir tentang situasi kala itu, masa (diantara) perang
dunia. The Great Dictator adalah film pertama di masa itu yang berani
dengan tajam menyindir Adolf Hitler dan Nazi-nya dengan mengibaratkannya
seperti manusia-manusia mesin, dengan pikiran dan hati mesin, "machine men, with machine minds and machine hearts".
Pertama
kali menonton film ini, saya seperti melihat sisi lain dari seorang
Charles Chaplin. Ya, di film inilah pertama kalinya saya mendengar suara
Charles Chaplin bicara, karena seperti yang disebutkan diawal, ini
adalah film ‘bicara’ pertamannya. Dibeberapa menit pertama film, kita
seolah tidak bisa menolak untuk tertawa melihat kelucuan (dan
kekonyolan) khas seorang Charles Chaplin. Di beberapa menit pertama itu
pula, saya menduga bahwa film ini adalah seperti beberapa film (pendek)
Charles Chaplin yang pernah saya tonton sebelumnya semisal The Rink
(1916) ataupun The Cure (1917), akan selalu memancing tawa. Namun
semakin lama, film ini semakin ‘serius’ bercerita, walaupun tetap dangan
gaya ringan dan humoris. Untuk ukuran film bertema ‘berat’, bisa
dibilang menonton film ini sangat menyenangkan dan tidak membosankan,
karena walaupun menceritakan background yang serius, namun dikemas dengan adegan-adegan yang sangat sederhana dengan bumbuan humor, namun tetap sarat makna.
Berbicara
tentang kehebatan film ini secara cerita dan penceritaannya, tentu tak
bisa lepas dari sang sutradara sekaligus aktor utama, Charles Chaplin.
Jika sebelumnya lebih sering melihatnya berakting lucu (kadang konyol)
dengan kostum khasnya yang biasa disebut Little Tramp
itu, di film ini disajikan bagaimana Charles Chaplin memerankan dua
karakter yang secara eksplisit sangat berbeda. Dan seperti tanpa cela,
dua karakter beda dunia itupun bisa dibawakan dengan sangat apik oleh
Charles Chaplin. Saya bahkan tak bisa menahan tawa (sekaligus takjub)
ketika adegan Charles Chaplin yang memerankan karakter Adolf Hitler,
sedang berpidato. Terlepas dari kebenaran secara tata bahasa yang saya
sendiri juga kurang tahu, gaya dan aksen Jerman-nya sungguh meyakinkan,
mengingat Charles Chaplin adalah orang Inggris yang tentu sangat kental
dengan aksen British English-nya. Terlebih jika kita membandingkan
antara dua adegan pidatonya di film itu, ketika di awal film dia
berpidato sebagai Adolf Hitler dan di akhir film ketika ia berpidato
sebagai warga biasa yang ‘disangka’ Adolf Hitler. Dengan pembawaan yang
meyakinkan, dua karakter berbeda itu berhasil dimainkan dengan baik oleh
Charles Chaplin.
Hal
menarik lain dari film ini adalah tentang ‘kemiripan’ antara Charles
Chaplin dengan salah satu karakter yang dimainkannya (atau lebih
tepatnya, diparodikannya), Adolf Hitler. Faktor ‘kemiripan’ itu pula
yang dianggap sebagai salah satu alasan kuat Charles Chaplin membuat The Great Dictator.
Secara penampilan, Chaplin dan Hitler memiliki kemiripan, terutama
kumis keduanya yang sangat khas. Keduanya juga lahir di hari yang
berdekatan, dimana Charles Chaplin yang lahir 16 Januari 1889, hanya
terpaut empat hari dengan hari kelahiran Adolf Hitler, yakni 20 Januari
1889. Keduanya juga sama-sama tumbuh besar di keluarga miskin dengan
ayah pemabuk dan ibu yang sakit-sakitan. Keduanya pun juga sama-sama
penggemar berat komposer kenamaan Jerman, Richard Wagner.
Film
yang memulai proses produksi pada September 1939 (hanya seminggu
setelah pecahnya perang Dunia II) dan selesai enam bulan kemudian itupun
sempat menimbulkan tensi tinggi hampir di seluruh dunia, dan diprediksi
tidak akan pernah dirilis, mengingat hubungan baik antara Amerika
Serikat dengan Jerman kala itu. Namun karena independen secara artistik
dan terlebih secara finansial, juga untuk menghindari kebangkrutan
karena Chaplin telah menginvestasikan 1,5 juta dollar untuk proyek film
ini, Charles Chaplin terus melanjutkan produksinya. The Great Dictator
akhirnya rilis di New York pada September 1940, ke publik Amerika
secara lebih luas pada Oktober, dan di Inggris pada Desember tahun yang
sama. Film itupun juga rilis di Prancis pada April 1945. Charles Chaplin
sendiri pernah menyatakan bahwa ia menerima banyak ‘peringatan’ selama
proses produksi. Namun dengan keteguhannya, proses produksi terus
dilanjutkan. Terlebih ketika presiden Amerika Serikat kala itu, Franklin
D. Roosevelt, mengirim penasehatnya untuk secara pribadi menemui
Charles Chaplin dan menyampaikan dukungan untuk melanjutkan produksi
film itu.
Oleh
sebagian orang, termasuk saya sendiri, film tentang Nazi (Nazism)
biasanya akan dianggap sebagai film ‘berat’ karena cerita yang diangkat.
Namun menonton film ini seolah meruntuhkan pandangan itu. Setidaknya
begitu menurut saya. Menonton film ini, membuat saya jauh lebih mengerti
(walaupun sedikit) tentang Nazi maupun Hitler. Setidaknya saya merasa lebih bisa menikmati dan mengerti cerita dan maknanya dibandingkan ketika saya menonton film lain tentang Nazi semisal Valkyrie yang bahkan memasang bintang sekelas Tom Cruise, maupun Inglourius Basterds-nya Quentin Tarantino.
Menonton
film ini seolah menyadarkan saya bahwa menceritakan sesuatu yang ‘berat
dan atau serius tidak melulu harus dengan adegan-adegan bertensi
tinggi. Charles Chaplin membuktikannya, bahwa bahkan sebuah cerita kelam
dari kediktatoran, bisa disampaikan dengan sederhana dan lugas, bahkan
dengan humor, namun tetap sarat pesan dan makna.
Sekian Posting dari saya
wassalamu'alaikum wr.wb
Download The Great Dictator
Subtittlenya Download



0 komentar:
Posting Komentar